Cita-cita SD Bina Talenta

Sumber : -

Oleh : Ir.Obin Taryana, Dipl.H.

..Sistem Pendidikan yang kita miliki, ternyata tidak menghasilkan banyak anak-anak yang berperilaku seperti yang diharapkan walau mungkin mereka cerdas secara akademis. Norma kehidupan, tampak seringkali terlanggar bahkan terinjak oleh putra-putri kita dan sayangnya hal ini dibiarkan, seolah-olah menjadi pembenaran. Sudah banyak anak-anak yang tidak mengenal lagi sopan-santun, tata-krama kepada orang tua dan sebayanya dengan dalih sekarang adalah jaman modern. Apakah harus kita biarkan keadaan ini?

Korea Selatan, sebagai salah satu negara Asia, sangat maju di bidang industri bajanya. Mereka juga manusia cerdas dan modern seperti bangsa Indonesia, tapi mereka mampu memelihara nilai luhur bangsanya. Mereka sangat santun dan hormat kepada orang yang lebih tua atau sebayanya, apakah tidak seharusnya kita juga mampu berbuat hal yang sama?

Saya sebagai anggota masyarakat biasa, yang sama dengan para orang tua siswa lainnya, merasa prihatin dengan pendidikan kita saat ini. Untuk itulah kemudian kami merancang SD Bina Talenta dengan mengorbankan banyak tenaga, waktu, fikiran dan tentu saja biaya.
Sesungguhnya penyelenggara SD Bina Talenta berkeinginan agar sekolah ini dapat menjadi sebuah solusi kecil bagi masalah pendidikan, yang memang berdampak langsung kepada seluruh peserta didik. SD Bina Talenta sekali lagi ingin membentuk siswanya yang cerdas secara akademis dan terpuji dalam perilaku. Bina Talenta ingin membentuk individu yang menguasa iptek sekaligus memiliki imtak yang mantap.
Sebagai sebuah sekolah yang baru, belum banyak yang dapat dilakukan oleh Bina Talenta, malah seperti yang saya sampaikan kepada salah seorang orang tua siswa, Bina Talenta saat ini masih banyak kekurangannya, masih harus terus berbenah untuk bisa lebih baik lagi.
Seandainya saja, para orang tua menyadari kekurangan dari sistem pendidikan nasional dan bisa memahami apa yang sedang dirintis Bina Talenta, harusnya muncul sebuah semangat yang sama, yaitu semangat untuk membentuk peserta didik yang cerdas, mandiri dan berbudi untuk mengisi masa depannya kelak. Generasi baru yang malu untuk berbuat tidak terpuji, merasa berdosa karena tidak menjaga nilai luhur agamanya dan hidup sia-sia karena gagal menjaga nama baik orang tua dan keluarganya.
Sebagai salah seorang yang sangat terlibat dalam merancang pendidikan di Bina Talenta, saya sering menerima pendapat yang disampaikan oleh banyak orang tua.
Maaf kalau saya harus menyampaikan beberapa ungkapan yang langsung disampaikan kepada saya, seperti:
» Two thumbs up untuk Bina Talenta
» Menurut saya Bina Talenta, sekolah yang terbaik di Bandung
» Inilah sekolah yang saya cari
» Saya tidak khawatir, yakin bahwa Bina Talenta akan bertambah maju
» Kok, ada sekolah yang seperti ini ya…
» Kayaknya semua cucu saya akan disekolahkan di Bina Talenta, Pak Obin !
» Setelah saya banding-bandingkan, ternyata sekolah di Bina Talenta tidak mahal

Hal ini menggembirakan kami, kami mengira, banyak orang tua yang menganggap konsep pendidikan di Bina Talenta, telah mampu memenuhi harapannya dalam mendidik putra-putrinya atau cucunya sekalipun. Paling tidak, hingga saat ini.
Ungkapan lain yang juga disampaikan oleh para orang tua, baik yang langsung ataupun tidak langsung saya dengar, seperti:
» Saya ragu dengan Bina Talenta untuk kedepannya
» Kenapa sih guru diganti-ganti, kasihan dong anak-anak kita
» Buktikan dulu prestasinya, kalau ingin dikatakan sekolah bagus
»….. mungkin akan saya keluarkan anak saya dari Bina Talenta
» Saya akan mengkritik tapi jangan sampai anak saya menjadi korban sekolah lho..
» Sayang ya SPP nya mahal


Ungkapan yang memang cenderung menggambarkan ketidak puasan, kekecewaan, keberatan dan lain sebagainya kepada SD Bina Talenta, memang perlu disikapi secara dewasa oleh penyelenggara pendidikan, mengingat tidak semua orang tua memiliki visi seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, sekaligus juga untuk dijadikan bahan introspeksi.
Kami siap dengan kritikan yang membangun, tapi kami menjadi sakit bila ada orang tua yang bersikap memusuhi, manakala ada hal yang tidak berkenan. Biasanya para orang tua ini segera mencari dukungan dari orang tua lainnya untuk bersama-sama bersikap menentang dan atau mengancam untuk mengeluarkan putra/putrinya dari Bina Talenta.
Kami sudah bertekad, kami akan mendidik siswa-siswi kami (berapapun jumlahnya) dengan berbalut kasih sayang, kami akan sangat persuasif, kami akan mendidik sambil memanjakannya, tapi apa yang kami peroleh dari para orang tua seperti tadi, hanyalah sikap bermusuhan.
Dari fakta yang telah kami catat, ada orang tua karena merasa sudah membayar SPP, apa lagi dengan SPP yang dianggap mahal, mereka merasa juga boleh menciderai hati kami. Hubungannya betul-betul diciptakan seperti di pasar, ada penjual dan ada pembeli. Orang tua tadi merasa sebagai pembeli diibaratkan seorang raja….dan kami dikiranya adalah penjual … penjual pendidikan…tentu saja itu tidak benar.
Sebuah kasih sayang bagi putra/putrinya yang dibalas dengan sikap tak bersahabat oleh orang tuanya, itulah yang membuat kami sakit.
Tentu bukan hal seperti ini yang diharapkan penyelenggara pendidikan, marilah kita secara dewasa, duduk bersama untuk mendiskusikan apa yang sebetulnya menjadi masalah, Insya Allah kami siap dan akan menjelaskannya.
Terhadap dua keadaan yang harus dihadapi SD Bina Talenta tadi, saya harus mengucap “alhamdulillah”. Itulah bagian yang memang harus saya dan rekan2 lainnya hadapi dengan rendah hati, Inya Allah, kami akan selalu tawakal pada Nya…tidak ada lain, sekaligus berdo’a semoga pemahaman atas makna pendidikan dapat lebih kita dalami lagi. Semoga cita-cita SD Bina Talenta menjadi juga cita-cita para orang tua.

_____________________________

Kembali