| ..Sistem
Pendidikan yang kita miliki, ternyata tidak menghasilkan banyak
anak-anak yang berperilaku seperti yang diharapkan walau mungkin
mereka cerdas secara akademis. Norma kehidupan, tampak seringkali
terlanggar bahkan terinjak oleh putra-putri kita dan sayangnya hal
ini dibiarkan, seolah-olah menjadi pembenaran. Sudah banyak anak-anak
yang tidak mengenal lagi sopan-santun, tata-krama kepada orang tua
dan sebayanya dengan dalih sekarang adalah jaman modern. Apakah
harus kita biarkan keadaan ini?
Korea Selatan, sebagai salah satu negara Asia, sangat maju di bidang
industri bajanya. Mereka juga manusia cerdas dan modern seperti
bangsa Indonesia, tapi mereka mampu memelihara nilai luhur bangsanya.
Mereka sangat santun dan hormat kepada orang yang lebih tua atau
sebayanya, apakah tidak seharusnya kita juga mampu berbuat hal yang
sama?
Saya sebagai anggota masyarakat biasa, yang sama dengan para orang
tua siswa lainnya, merasa prihatin dengan pendidikan kita saat ini.
Untuk itulah kemudian kami merancang SD Bina Talenta dengan mengorbankan
banyak tenaga, waktu, fikiran dan tentu saja biaya.
Sesungguhnya penyelenggara SD Bina Talenta berkeinginan agar sekolah
ini dapat menjadi sebuah solusi kecil bagi masalah pendidikan, yang
memang berdampak langsung kepada seluruh peserta didik. SD Bina
Talenta sekali lagi ingin membentuk siswanya yang cerdas secara
akademis dan terpuji dalam perilaku. Bina Talenta ingin
membentuk individu yang menguasa iptek sekaligus memiliki imtak
yang mantap.
Sebagai sebuah sekolah yang baru, belum banyak yang dapat dilakukan
oleh Bina Talenta, malah seperti yang saya sampaikan kepada salah
seorang orang tua siswa, Bina Talenta saat ini masih banyak kekurangannya,
masih harus terus berbenah untuk bisa lebih baik lagi.
Seandainya saja, para orang tua menyadari kekurangan dari sistem
pendidikan nasional dan bisa memahami apa yang sedang dirintis Bina
Talenta, harusnya muncul sebuah semangat yang sama, yaitu semangat
untuk membentuk peserta didik yang cerdas, mandiri dan berbudi untuk
mengisi masa depannya kelak. Generasi baru yang malu untuk berbuat
tidak terpuji, merasa berdosa karena tidak menjaga nilai luhur agamanya
dan hidup sia-sia karena gagal menjaga nama baik orang tua dan keluarganya.
Sebagai salah seorang yang sangat terlibat dalam merancang pendidikan
di Bina Talenta, saya sering menerima pendapat yang disampaikan
oleh banyak orang tua.
Maaf kalau saya harus menyampaikan beberapa ungkapan yang langsung
disampaikan kepada saya, seperti:
» Two thumbs up untuk Bina Talenta
» Menurut saya Bina Talenta, sekolah yang
terbaik di Bandung
» Inilah sekolah yang saya cari
» Saya tidak khawatir, yakin bahwa Bina Talenta
akan bertambah maju
» Kok, ada sekolah yang seperti ini ya…
» Kayaknya semua cucu saya akan disekolahkan
di Bina Talenta, Pak Obin !
» Setelah saya banding-bandingkan, ternyata
sekolah di Bina Talenta tidak mahal
Hal ini menggembirakan kami, kami mengira, banyak orang tua yang
menganggap konsep pendidikan di Bina Talenta, telah mampu memenuhi
harapannya dalam mendidik putra-putrinya atau cucunya sekalipun.
Paling tidak, hingga saat ini.
Ungkapan lain yang juga disampaikan oleh para orang tua, baik yang
langsung ataupun tidak langsung saya dengar, seperti:
» Saya ragu dengan Bina Talenta untuk kedepannya
» Kenapa sih guru diganti-ganti, kasihan
dong anak-anak kita
» Buktikan dulu prestasinya, kalau ingin
dikatakan sekolah bagus
»….. mungkin akan saya keluarkan anak
saya dari Bina Talenta
» Saya akan mengkritik tapi jangan sampai
anak saya menjadi korban sekolah lho..
» Sayang ya SPP nya mahal
Ungkapan yang memang cenderung menggambarkan ketidak puasan, kekecewaan,
keberatan dan lain sebagainya kepada SD Bina Talenta, memang perlu
disikapi secara dewasa oleh penyelenggara pendidikan, mengingat
tidak semua orang tua memiliki visi seperti yang telah diungkapkan
sebelumnya, sekaligus juga untuk dijadikan bahan introspeksi.
Kami siap dengan kritikan yang membangun, tapi kami menjadi sakit
bila ada orang tua yang bersikap memusuhi, manakala ada hal yang
tidak berkenan. Biasanya para orang tua ini segera mencari dukungan
dari orang tua lainnya untuk bersama-sama bersikap menentang dan
atau mengancam untuk mengeluarkan putra/putrinya dari Bina Talenta.
Kami sudah bertekad, kami akan mendidik siswa-siswi kami (berapapun
jumlahnya) dengan berbalut kasih sayang, kami akan sangat persuasif,
kami akan mendidik sambil memanjakannya, tapi apa yang kami peroleh
dari para orang tua seperti tadi, hanyalah sikap bermusuhan.
Dari fakta yang telah kami catat, ada orang tua karena merasa sudah
membayar SPP, apa lagi dengan SPP yang dianggap mahal, mereka merasa
juga boleh menciderai hati kami. Hubungannya betul-betul diciptakan
seperti di pasar, ada penjual dan ada pembeli. Orang tua tadi merasa
sebagai pembeli diibaratkan seorang raja….dan kami dikiranya
adalah penjual … penjual pendidikan…tentu saja itu tidak
benar.
Sebuah kasih sayang bagi putra/putrinya yang dibalas dengan sikap
tak bersahabat oleh orang tuanya, itulah yang membuat kami sakit.
Tentu bukan hal seperti ini yang diharapkan penyelenggara pendidikan,
marilah kita secara dewasa, duduk bersama untuk mendiskusikan apa
yang sebetulnya menjadi masalah, Insya Allah kami siap dan akan
menjelaskannya.
Terhadap dua keadaan yang harus dihadapi SD Bina Talenta tadi, saya
harus mengucap “alhamdulillah”. Itulah bagian yang memang
harus saya dan rekan2 lainnya hadapi dengan rendah hati, Inya Allah,
kami akan selalu tawakal pada Nya…tidak ada lain, sekaligus
berdo’a semoga pemahaman atas makna pendidikan dapat lebih
kita dalami lagi. Semoga cita-cita SD Bina Talenta menjadi juga
cita-cita para orang tua.
|