PENANGANAN BELAJAR
SISWA
A. TEORI BELAJAR
Belajar merupakan perubahan perilaku yang relative permanen sebagai
hasil pengalaman dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain
serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain. Terjadinya proses
itu tidaklah mudah, sehingga ada beberapa pendapat / teori mengenai
belajar, sebagai berikut :
1. Teori Tradisional / Klasik
Teori ini terdapat 8 teori belajar yaitu :
a. Teori Ganjaran dan Hukuman
Teori ini berpegang pada prinsif bahwa tingkah laku orang akan berubah
melalui proses pemberian ganjaran dan hukuman. Ini berarti bahwa
orang akan berbuat karena ada ganjaran yang akan diraihnya, dan
orang tidak akan mengubah tingkah lakunya karena takut mendapat
hukuman.
b. Teori Perubahan Fakta
Landasan teori ini adalah bahwa jiwa / pikiran merupakan gudang
fakta. Tujuan kegiatan belajar untuk menambah isi gudang dengan
fakta-fakta baru.
Artinya : 1. belajar dianggap sebagai proses penerimaan dan penyerapan
fakta.
Makin banyak fakta yang dapat dikumpulkan, makin banyak perubahan
tingkah laku yang terjadi pada individu.
2. belajar berarti mengingat, bahwa daya ingat merupakan alat belajar
yang utama
3. belajar dipandang sebagai proses sekedar menerima secara pasif.
c. Teori Hasil Belajar Permanen
Teori ini memandang bahwa materi yang dipelajari tidak akan dilupakan
dan akan tetap ada dalam diri orang yang belajar, dan tergantung
kepada semakin dibutuhkan hasil belajar itu, ternyata semakin permanen
berada dalam diri orang yang belajar. Sifat permanen hasil belajar
itu tergantung pula pada latihan dan pengulangan dalam belajar.
d. Teori Rangsangan dari Luar
Teori ini memandang bahwa perubahan tingkah laku akan terjadi apabila
ada rangsangan dari luar, berupa buku atau suara guru atau rangsangan
lain.
e. Teori Proses Tahapan
Tingkah laku akan berubah melalui tahapan-tahapan tertentu, bahan
pelajaran seyogyanya disusun berdasarkan tingkat kesukarannya, disajikan
mulai dari tahap yang paling mudah ke tahap yang paling sukar.
f. Teori Transfer Otomatis
Hasil belajar dalam suatu bidang tertentu dapat ditransfer untuk
digunakan dalam lapangan lain yang berbeda situasinya. Kecakapan
ilmu yang diperoleh di dalam kelas, dapat digunakan dalam situasi
nyata di luar kelas.Transfer tersebut dianggap terjadi secara otomatis.
Bahawa orang yang telah mempelajari dianggap secara otomatis akan
dapat menggunakan apa-apa yang sudah dipelajari secara tetap, kapan
saja, di mana saja, dan terhadap apapun juga.
g. Teori Kerja Keras
Tingkah laku dapat berubah melalui proses latihan yang keras dan
berat. Makin sulit, makin berat proses yang dialami, makin besar
nilainya bagi perubahan tingkah laku.
h. Teori Kondisi Menyenagkan
Hanya dalam kondisi yang menyenangkan proses belajar akan memberikan
hasil yang besar.
2. Teori Modern
Ada 3 kelompok dalam teori modern :
a. Teori Asosiasi
Menurut teori ini, segala pengetahuan itu berasal dari pengalaman.
Setiap pengalaman kita berasosiasi atau berhubungan dengan hal-hal
tertentu sebagai hasil belajar, misalnya : disaat kita melihat gambar
ruman , kita akan ingat kepada orang tua yang jauh di kampung, dari
contoh tersebut dapatlah dikemukakan bahwa antara stimulus dan respon
terjadi asosiasi atau hubungan yang menyebabkan terjadinya perubahan
tingkah laku. Asosiasi tersebut terjadi melalui berbagai cara diantaranya
karena kebutuhan, tanpa arah dan dapat juga dengan sengaja dan terarah.
b. Teori Kognisi
Teori ini berpandangan bahwa lingkungan semata tidak cukup menumbuhkan
bentuk respons yang diharapkan, para ahli teori ini berpendapat
bahwa respons tidak langsung pada stimulus, akan tetapi respon tersebut
ditujukan kepada stimulus yang mereka hayati. Tidak semua stimulus
direspons, sksn tetapi individu hanya merespon kepada bagian tertentu
saja dari lingkungan dan mengabaikan lainnya.
Interpretasi terhadap lingkungan tidak semata –mata berdasarkan
situasi yang ada, akan tetapi didasarkan kepada tujuan yang ingin
dicapainya, motif, pengalaman masa lalu dan kemampuan orang yang
belajar.
c. Teori Mengkondisi
Teori ini berpandangan bahwa :
1. Lingkungan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk tingkah laku
baru
2. Pengamatan membantu kita dalam memahami jenis belajar alaconditioning,
dan tahap-tahap belajar berdasarkan teori ini dapat dijabarkan menjadi
unsur-unsur kecil.
3. Menurut teori conditioning, hubungan stimulus respons terjadi
secara mekanitis dan tidak bersifat dinamis
4. Stimulus yang spesifik akan menyebabkan individu merespons dan
bukan stimulus yang mengandung masalah untuk dipecahkan
B. DRKB
Upaya – upaya para pendidik dalam memberikan bantuan kepada
siswa yang mendapat kesulitan belajar, ada yang berhasil, namun
ada juga yang mengalami kegagalan. Dalam hal ini pihak pendidik,
guru, pembimbing atau konselor mungkin kurang tepat / tidak tetap
dalam menentukan diagnosis.
Diagnosis adalah gambaran mengenai masalah klien dan penyebab timbulnya
masalah itu. Gambaran tersebut diperoleh atas dasar gambaran terhadap
dinamika kepribadian individu yang bersangkutan.
Ada beberapa model pendekatan diagnosis antara lain model Abin
Syamsudin, model ini meliputi 5 tahap :
1. Identifikasi kasus
Pada tahap ini tujuan utama adalah menandai siswa yang diduga mengalami
kesulitan belajar dengan cara :
a. mencatat terhadap siswa yang lambat sampai dengan yang paling
lambat menyelesaikan tugas.
b. Mengolektifkan frekuensi ketidakhadiran ( terutama dengan keterangan
alfa ) dari siswa yang tidak suka hadir sampai siswa yang sering
sekali hadir.
c. Mengolektifkan frekuensi partisifasi, misalnya dalam metode diskusi
( kurang-tidak aktif, kurang / tidak konstruktif, pasif / sangat
pasif )
d. Menandai siswa dalam hubungan sosialnya, yaitu dengan teknik
sosiometri
( yang kurang disenangi-tidak disenangi, terisolir – sangat
terisolir )
2. Melokalisasi Letaknya Kesulitan
Untuk mengungkap data tentang siswa yang diduga sebagai kasus :
sebagai jawaban terhadap pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut
:
a. Dalam mata pelajaran ( bidang studi ) manakah kesulitan belajar
terjadi ?
b. Pada kawasan tujuan belajar ( aspek prilaku )manakah kesulitan
itu terjadi ?
c. Pada bagian ( ruang lingkup bahan ) yang manakah kesulitan belajar
terjadi ?
d. Dalam segi-segi proses belajar manakah kesulitan itu terjadi
?
3. Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan
Tahap ini bertujuan untuk menentukan jenis dan karakteristik kesulitan
dalam faktor penyebabnya.
Faktor penyebab kesulitan belajar bisa belajar dari faktor :
a. Diri sendiri :
- kelemahan mental
- kelemahan fisik
- kelemahan emosional
- kelemahan karena kebiasaan dan sikap
- tidak memiliki keterampilan dasar
b. Lingkungan :
- Kelemahan kurikulum
- Kelemahan dalam keluarga
- Lingkungan sekitarnya
4. Kesimpulan dan Rekomendasi Pemecahan
Tahap ini berkenaan dengan hasil penelusuran tahap 1,2,3.
Tahap ke-4 ini sampailah pada :
a. Menarik suatu kesimpulan umum
b. Membuat perkiraan apakah masalah tersebut mungkin di atasi
c. Memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya
5. Rekomendasi bagi Pelaksanaan Pemecahannya
Tahap ini sebagai tahap terakhir, hasil pelaksanaan secara menyeluruh
untuk dibuat secara lengkap tentang :
a. Deskripsi singkat tentang identitas kasus
b. Deskripsi singkat mengenai jenis dan sifat permasalahan disertai
datanya
c. Deskripsi singkat hasil diagnosis atau sumber dan faktor yang
menyebabkan kesulitan
d. Hasil kesimpulan, perkiraan serta alternatif tindakan yang disarankan
untuk mengatasinya
e. Hal-hal lain yang dianggap sangat penting dan bermanfaat bagi
pemecahannya
C. BIMBINGAN BELAJAR
Bimbingan belajar diartikan sebagai proses pemberian bantuan dari
guru / guru pembimbing kepada siswa agar terhindar dari kesulitan
belajar, yang mungkin muncul selama proses pembelajaran, sehingga
siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Optimal dalam kontek
belajar dapat dimaknai sebagai siswa yang efektif, produktif dan
prestatif.
- Fungsi Bimbingan Belajar
1. Mencegah kemungkinan timbulnya masalah dalam belajar
2. Menyalurkan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya sehingga belajar
dapat berkembang secara optimal
3. Agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar
4. Perbaikan terhadap kondisi-kondisi yang mengganggu proses belajar
siswa
5. Upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar
siswa
- Tujuan dan Manfaat Bimbingan Belajar
1. Tujuan secara umum : tercapainya penyesuaian akademik siswa sehingga
dapat mengembangkan potensinya secara optimal
2. Tujuan secara khusus :
a. Siswa dapat mengenal, memahami, menerima, mengarahkan dan mengaktualisasikan
potensi secara optimal.
b. Mengembangkan berbagai keterampilan belajar
c. Mengembangkan suasana belajar yang kondusif
d. Memahami lingkungan pendidikan
Manfaat bimbingan belajar bagi siswa adalah tersedianya kondisi
belajar yang nyaman, terperhatikannya karakteristik pribadi siswa,
dan siswa dapat mereduksi kemungkinan kesulitan belajar.
- Langkah-langkah bimbingan belajar yang ditempuh guru sebagai berikut
:
1. Pengumpulan informasi tentang siswa
2. Pemberian informasi
3. Penempatan
4. Identifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
5. Diagnosis
6. Prognosis
7. Treatment
8. Evaluasi
(Deni setiawan, S.Pd. dikutif dari berbagai sumber)
_____________________________
|