PENANGANAN BELAJAR SISWA

Sumber : dari berbagai sumber

Oleh : Deni Setiawan, S.Pd.

PENANGANAN BELAJAR SISWA

A. TEORI BELAJAR
Belajar merupakan perubahan perilaku yang relative permanen sebagai hasil pengalaman dan bisa melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu mengkomunikasikannya kepada orang lain. Terjadinya proses itu tidaklah mudah, sehingga ada beberapa pendapat / teori mengenai belajar, sebagai berikut :

1. Teori Tradisional / Klasik

Teori ini terdapat 8 teori belajar yaitu :

a. Teori Ganjaran dan Hukuman
Teori ini berpegang pada prinsif bahwa tingkah laku orang akan berubah melalui proses pemberian ganjaran dan hukuman. Ini berarti bahwa orang akan berbuat karena ada ganjaran yang akan diraihnya, dan orang tidak akan mengubah tingkah lakunya karena takut mendapat hukuman.
b. Teori Perubahan Fakta
Landasan teori ini adalah bahwa jiwa / pikiran merupakan gudang fakta. Tujuan kegiatan belajar untuk menambah isi gudang dengan fakta-fakta baru.
Artinya : 1. belajar dianggap sebagai proses penerimaan dan penyerapan fakta.
Makin banyak fakta yang dapat dikumpulkan, makin banyak perubahan tingkah laku yang terjadi pada individu.
2. belajar berarti mengingat, bahwa daya ingat merupakan alat belajar yang utama
3. belajar dipandang sebagai proses sekedar menerima secara pasif.

c. Teori Hasil Belajar Permanen
Teori ini memandang bahwa materi yang dipelajari tidak akan dilupakan dan akan tetap ada dalam diri orang yang belajar, dan tergantung kepada semakin dibutuhkan hasil belajar itu, ternyata semakin permanen berada dalam diri orang yang belajar. Sifat permanen hasil belajar itu tergantung pula pada latihan dan pengulangan dalam belajar.
d. Teori Rangsangan dari Luar
Teori ini memandang bahwa perubahan tingkah laku akan terjadi apabila ada rangsangan dari luar, berupa buku atau suara guru atau rangsangan lain.
e. Teori Proses Tahapan
Tingkah laku akan berubah melalui tahapan-tahapan tertentu, bahan pelajaran seyogyanya disusun berdasarkan tingkat kesukarannya, disajikan mulai dari tahap yang paling mudah ke tahap yang paling sukar.
f. Teori Transfer Otomatis
Hasil belajar dalam suatu bidang tertentu dapat ditransfer untuk digunakan dalam lapangan lain yang berbeda situasinya. Kecakapan ilmu yang diperoleh di dalam kelas, dapat digunakan dalam situasi nyata di luar kelas.Transfer tersebut dianggap terjadi secara otomatis. Bahawa orang yang telah mempelajari dianggap secara otomatis akan dapat menggunakan apa-apa yang sudah dipelajari secara tetap, kapan saja, di mana saja, dan terhadap apapun juga.
g. Teori Kerja Keras
Tingkah laku dapat berubah melalui proses latihan yang keras dan berat. Makin sulit, makin berat proses yang dialami, makin besar nilainya bagi perubahan tingkah laku.
h. Teori Kondisi Menyenagkan
Hanya dalam kondisi yang menyenangkan proses belajar akan memberikan hasil yang besar.

2. Teori Modern

Ada 3 kelompok dalam teori modern :
a. Teori Asosiasi
Menurut teori ini, segala pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Setiap pengalaman kita berasosiasi atau berhubungan dengan hal-hal tertentu sebagai hasil belajar, misalnya : disaat kita melihat gambar ruman , kita akan ingat kepada orang tua yang jauh di kampung, dari contoh tersebut dapatlah dikemukakan bahwa antara stimulus dan respon terjadi asosiasi atau hubungan yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku. Asosiasi tersebut terjadi melalui berbagai cara diantaranya karena kebutuhan, tanpa arah dan dapat juga dengan sengaja dan terarah.
b. Teori Kognisi
Teori ini berpandangan bahwa lingkungan semata tidak cukup menumbuhkan bentuk respons yang diharapkan, para ahli teori ini berpendapat bahwa respons tidak langsung pada stimulus, akan tetapi respon tersebut ditujukan kepada stimulus yang mereka hayati. Tidak semua stimulus direspons, sksn tetapi individu hanya merespon kepada bagian tertentu saja dari lingkungan dan mengabaikan lainnya.
Interpretasi terhadap lingkungan tidak semata –mata berdasarkan situasi yang ada, akan tetapi didasarkan kepada tujuan yang ingin dicapainya, motif, pengalaman masa lalu dan kemampuan orang yang belajar.
c. Teori Mengkondisi
Teori ini berpandangan bahwa :
1. Lingkungan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk tingkah laku
baru
2. Pengamatan membantu kita dalam memahami jenis belajar alaconditioning, dan tahap-tahap belajar berdasarkan teori ini dapat dijabarkan menjadi unsur-unsur kecil.
3. Menurut teori conditioning, hubungan stimulus respons terjadi secara mekanitis dan tidak bersifat dinamis
4. Stimulus yang spesifik akan menyebabkan individu merespons dan bukan stimulus yang mengandung masalah untuk dipecahkan

B. DRKB

Upaya – upaya para pendidik dalam memberikan bantuan kepada siswa yang mendapat kesulitan belajar, ada yang berhasil, namun ada juga yang mengalami kegagalan. Dalam hal ini pihak pendidik, guru, pembimbing atau konselor mungkin kurang tepat / tidak tetap dalam menentukan diagnosis.
Diagnosis adalah gambaran mengenai masalah klien dan penyebab timbulnya masalah itu. Gambaran tersebut diperoleh atas dasar gambaran terhadap dinamika kepribadian individu yang bersangkutan.

Ada beberapa model pendekatan diagnosis antara lain model Abin Syamsudin, model ini meliputi 5 tahap :
1. Identifikasi kasus
Pada tahap ini tujuan utama adalah menandai siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dengan cara :
a. mencatat terhadap siswa yang lambat sampai dengan yang paling lambat menyelesaikan tugas.
b. Mengolektifkan frekuensi ketidakhadiran ( terutama dengan keterangan alfa ) dari siswa yang tidak suka hadir sampai siswa yang sering sekali hadir.
c. Mengolektifkan frekuensi partisifasi, misalnya dalam metode diskusi
( kurang-tidak aktif, kurang / tidak konstruktif, pasif / sangat pasif )
d. Menandai siswa dalam hubungan sosialnya, yaitu dengan teknik sosiometri
( yang kurang disenangi-tidak disenangi, terisolir – sangat terisolir )

2. Melokalisasi Letaknya Kesulitan
Untuk mengungkap data tentang siswa yang diduga sebagai kasus : sebagai jawaban terhadap pertanyaan – pertanyaan sebagai berikut :
a. Dalam mata pelajaran ( bidang studi ) manakah kesulitan belajar terjadi ?
b. Pada kawasan tujuan belajar ( aspek prilaku )manakah kesulitan itu terjadi ?
c. Pada bagian ( ruang lingkup bahan ) yang manakah kesulitan belajar terjadi ?
d. Dalam segi-segi proses belajar manakah kesulitan itu terjadi ?

3. Identifikasi Faktor Penyebab Kesulitan
Tahap ini bertujuan untuk menentukan jenis dan karakteristik kesulitan dalam faktor penyebabnya.
Faktor penyebab kesulitan belajar bisa belajar dari faktor :
a. Diri sendiri :
- kelemahan mental
- kelemahan fisik
- kelemahan emosional
- kelemahan karena kebiasaan dan sikap
- tidak memiliki keterampilan dasar
b. Lingkungan :
- Kelemahan kurikulum
- Kelemahan dalam keluarga
- Lingkungan sekitarnya

4. Kesimpulan dan Rekomendasi Pemecahan
Tahap ini berkenaan dengan hasil penelusuran tahap 1,2,3.
Tahap ke-4 ini sampailah pada :
a. Menarik suatu kesimpulan umum
b. Membuat perkiraan apakah masalah tersebut mungkin di atasi
c. Memberikan saran tentang kemungkinan cara mengatasinya

5. Rekomendasi bagi Pelaksanaan Pemecahannya
Tahap ini sebagai tahap terakhir, hasil pelaksanaan secara menyeluruh untuk dibuat secara lengkap tentang :
a. Deskripsi singkat tentang identitas kasus
b. Deskripsi singkat mengenai jenis dan sifat permasalahan disertai datanya
c. Deskripsi singkat hasil diagnosis atau sumber dan faktor yang menyebabkan kesulitan
d. Hasil kesimpulan, perkiraan serta alternatif tindakan yang disarankan untuk mengatasinya
e. Hal-hal lain yang dianggap sangat penting dan bermanfaat bagi pemecahannya

C. BIMBINGAN BELAJAR

Bimbingan belajar diartikan sebagai proses pemberian bantuan dari guru / guru pembimbing kepada siswa agar terhindar dari kesulitan belajar, yang mungkin muncul selama proses pembelajaran, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Optimal dalam kontek belajar dapat dimaknai sebagai siswa yang efektif, produktif dan prestatif.

- Fungsi Bimbingan Belajar
1. Mencegah kemungkinan timbulnya masalah dalam belajar
2. Menyalurkan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya sehingga belajar dapat berkembang secara optimal
3. Agar siswa dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar
4. Perbaikan terhadap kondisi-kondisi yang mengganggu proses belajar siswa
5. Upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi belajar siswa

- Tujuan dan Manfaat Bimbingan Belajar
1. Tujuan secara umum : tercapainya penyesuaian akademik siswa sehingga dapat mengembangkan potensinya secara optimal
2. Tujuan secara khusus :
a. Siswa dapat mengenal, memahami, menerima, mengarahkan dan mengaktualisasikan potensi secara optimal.
b. Mengembangkan berbagai keterampilan belajar
c. Mengembangkan suasana belajar yang kondusif
d. Memahami lingkungan pendidikan
Manfaat bimbingan belajar bagi siswa adalah tersedianya kondisi belajar yang nyaman, terperhatikannya karakteristik pribadi siswa, dan siswa dapat mereduksi kemungkinan kesulitan belajar.


- Langkah-langkah bimbingan belajar yang ditempuh guru sebagai berikut :
1. Pengumpulan informasi tentang siswa
2. Pemberian informasi
3. Penempatan
4. Identifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
5. Diagnosis
6. Prognosis
7. Treatment
8. Evaluasi

(Deni setiawan, S.Pd. dikutif dari berbagai sumber)

_____________________________

Kembali